Posted by: Erna Tambunan | May 30, 2009

Kasih

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.                          1 Korintus 13 : 4-8

Masalah dengan kasih itu adalah bahwa begitu banyak orang yang tidak tahu apakah kasih itu. Kasih bukanlah perasaan; itu adalah sikap. Mendasarkan kasih pada emosi-emosi, seperti yang dilakukan dunia ini, telah menyebabkan kepedihan yang tak terkira pada orang-orang yang tak terhitung banyaknya. Itu adalah seperti membangun istana pasir di pantai. Mungkin tampaknya kokoh, namun ketika air pasang, istana pasir itu tidak cukup kuat untuk bertahan, dan akan hanyut.

Perasaan itu bisa datang dan pergi. Dalam satu hari, kita semua mengalami berbagai emosi. Jelaslah bahwa mendasarkan hubungan antar manusia hanya pada perasaan sama saja dengan mencari masalah. Orangtua yang mengasihi anak-anaknya hanya ketika suasana hatinya pas adalah orang tua yang payah. Seorang teman yang tetap loyal hanya hingga mendapatkan tawaran yang lebih baik bukanlah teman yang baik. Seorang suami yang meninggalkan isteri dan anak-anaknya karena menemukan wanita lain lebih menarik telah melewatkan inti pernikahan.

Dunia memberikan perhatian yang luar biasa kepada kasih. Film, lagu, dan buku-buku tentang kasih menghasilkan milyaran dolar pendapatan. Persoalanya, kasih itu digambarkan dengan kata-kata “jatuh cinta” atau “tidak mencintai lagi”.

Tak ada solusi yang diberikan tentang apa yang harus diperbuat ketika Anda tidak lagi merasakan kehangatan cinta itu – ketimbang memulainya lagi dengan orang lain. Anda dapat mengenali kasih yang duniawi dari betapa tak dapat diramalkannya itu.

Alkitab memberikan jenis kasih yang berbeda. Kasih ini mengatakan bahwa saya berkomitmen untuk bersikap mengasihi terhadap orang ini terlepas dari bagaimanapun perasaan saya. Anda akan dapat mengenali kasih menurut Alkitab: kasih itu sabar, tidak mementingkan diri sendiri, dan setia. Kasih itu tidak amenghitung-hitung kesalahan; kasih itu mengasumsikan motif-motif yang terbaik. Kasih itu memberi tanpa mengharapkan balasan; kasih itu selalu berupaya menghormati Alah, dan kasih itu sabar menanggung suka maupun duka. Perasaan bisa berubah. Perasaan tidak kekal, namun kasih menurut Alkitab itu kekal. Mintalah agar Allah membawa Anda melampaui cara mengasihi duniawi agar Anda dapat mengasihi orang lain dalam dimensi yang sama sekali baru, seperti Allah mengasihi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: